Image by kp yamu jayanath from Pixabay
Video-video tentang para bule yang berada di Bali akhir-akhir ini selalu viral di sosial media. Bahasa kasarnya, mereka mulai ngelunjak selama di Bali. Paling terbaru, ada video dua bule yang marah dan menghajar orang di sebuah pelaksanaan acara budaya di Bali. Bule ini turun dari motor dan main tangan.
Sontak saja video tersebut memancing respon masyarakat dimana sudah seharusnya bule-bule ini ditertibkan sebab membuat masyaraka resah. Namun tentunya kita semua tahu kalau pihak berwajib disini itu rada gimana gitu. Biasanya gerak pas viral doang, chuaks.
Ada cara lain yang dapat diterapkan oleh pemerintah Bali, yaitu mengadakan tes sertifikasi kepada para bule ini. Berikut empat jenis sertifikasi yang harus diadakan kepada bule dan wisatawan asing.
Sertifikasi pemahaman geografis
Entah kenapa bule-bule atau wisatawan asing ini kalau ditanya Indonesia itu dimana mereka nggak tahu, tapi pas ditanya Bali itu dimana mereka malah ngerti. Bahkan tidak jarang ada yang menyebut Bali itu adalah negara sendiri, lebih parah lagi pernah menyebut Indonesia itu berada di dalam Bali.
Padahal Bali itulah yang berada di Indonesia sebagai sebuah provinsi, bukan negara apalagi planet lain. Para bule ini harus mendapatkan sertifikasi ilmu ini biar ntar di negara asalnya nggak malu-maluin kalau misalnya ditanya tentang Indonesia.
Sertifikasi membawa motor dan aturan lalu lintas
Bukan tes SIM ya, melainkan uji membawa motor saja. Melanjutkan paragraf sebelumnya, tidak sedikit masyarakat yang rada seram pas bule ini bawa motor di Indonesia. Saat di jalanan lurus mereka terlihat baik-baik saja, saat di belokan atau tikungan sedikit ngasal. Sudah jelas bahwa kemampuan mereka membawa motor masih dibawah kata layak.
Selain bawa motor, mereka juga harus belajar aturan lalu lintas. Banyak video beredar yang menunjukkan mereka jarang menggunakan helm, bahkan tidak menggunakan baju. Itu mau bawa motor atau show off badan, bos?
Sertifikasi budaya dan adat Bali
Tidak sedikit juga video yang beredar tentang bule yang tidak menunjukkan respek kepada pelaksanaan budaya yang ada di Bali. Maka dari itu, tidak ada salahnya agar mereka diberikan pembekalan berupa budaya dan adat apa saja di Bali. Tujuannya agar memahami urgensi serta hal apa yang harus dilakukan.
Misalnya lagi diadakan di tengah jalan, maka lebih baik lewat dengan damai. Jangan sampai malah protes dan bertanya-tanya ini kebudayaan apa, apalagi sampai turun dari kendaraan dan mencari masalah seperti menghajar orang-orang yang terlibat di pelaksanaan budaya atau adat tersebut.
Sertifikasi kerelaan
Kedengarannya memang rada konyol, tapi jangan salah. Sertifikasi kerelaan ini bertujuan agar para bule ikhlas dan rela menerima kondisi apapun yang ada di Indonesia. Misalnya ayam berkokok di pagi hari, itu kan sudah menjadi hal wajar di provinsi manapun termasuk Bali.
Masa mau protes dan bikin petisi. Jangan-jangan nanti mereka malah bikin petisi kenapa banyak sekali jenis aci (cilok, cireng, cimol, cuanki). Maka, sertifikasi kerelaan ini agar para bule tahu dimama mereka berdiri dan bertempat.
Dalam praktiknya, yang harus menyesuaikan tentunya para bule ini. Bukan masyarakatnya, apalagi pemerintah negara yang harus menyesuaikan. Pelaksanaan sertifikasi diatas dapat dilakukan dengan kerjasama pihak berwajib dan pihak pendidikan serta pelaku pariwisata.
Tes sertifikasi bisa dilakukan di bandara maupun di tempat lain, pokoknya sebelum mereka masuk ke wilayah Bali. Terkait biaya, sebisa mungkin tidak usah ada biaya tes. Takutnya bule-bule jadi malas bertandang ke Bali, tapi jujur CInestima lebih takut dengan pemerintah disini.
Tahu sendiri lah ya, disini apapun bisa jadi ladang uang. Chuaks.