Gambar oleh Alexa dari Pixabay
Beberapa waktu lalu, publik dikejutkan dengan ditemukannya jenazah bayi dengan kondisi yang sangat tragis di Karawang. Bahkan tidak berperikemanusiaan dan tidak layak dilakukan. Jenazah bayi tersebut dalam kondisi dilakban dan dibungkus berlapis-lapis. Diduga kematiannya karena tidak bisa bernafas akibat dilakban. Aparat bergegas mengamankan pelaku yang penyebab kematian bayi malang tersebut.
Dikutip dari tribun, kedua pelaku merupakan sepasang kekasih. Pria berinisial MRB (20) dan wanita berinisial RDL (21). Keduanya lekas diinterogasi atas kejadian bejat yang dilakukan kedua orang tersebut.
Diketahui salah satu alasan keduanya tega melakukannya adalah karena malu memiliki anak sebelum menikah. Bahkan mereka melakukannya tidak lama setelah sang bayi dilahirkan di dunia.
Sebelumnya, Cinestima turut mengucapkan duka sedalam-dalamnya. Semoga Tuhan memberikan tempat terbaik dan surga tertinggi.
Kejadian ini memperjelas betapa berbahayanya manusia, khususnya manusia yang tengah dimabuk asmara. Maka apa yang dikatakan oleh Cu Pat Kai adalah benar, ‘’Dari dulu begitulah cinta, deritanya tiada akhir!’’
Tidak bisa dibayangkan bagaimana bayi yang seharusnya baru lahir dan mendengarkan lafaz adzan, justru ditutupi oleh lakban. Bayi yang seharusnya mendapatkan tangisan bahagia dari kedua orang tuanya justru mendapat rasa malu dari orang tua sendiri. Bayi yang seharusnya menjadi sumber kebahagiaan pasutri, kini dipaksa pergi dari dunia yang indah ini.
Lebih parahnya lagi, kedua orang pelaku belum menikah yang sudah jelas keduanya melakukan hubungan di luar nikah sampai si perempuan mengandung. Dan keduanya dengan tega menghabisi nyawa anak mereka sendiri.
Berdasarkan kasus ini, Cinestima dengan tegas menyatakan ingin memberikan edukasi kepada para kekasih: jangan aneh-aneh sampai mengorbankan nyawa!
Bertindak sewajarnya
Kekasih, pacar, atau sejenisnya jika kita lihat dari kacamata manapun sudah menjelaskan bahwa hanyalah dua orang yang saling suka. Belum ada hak dan kewajiban untuk melakukan yang aneh-aneh, terlebih lagi zina. Halal saja belum, sudah berani indehoy diam-diam.
Lakukanlah hal-hal yang sewajarnya jika statusnya masih kekasih. Makan berdua, kencan berdua dengan tenang, dan tetap fokus ke diri sendiri. Selama status keduanya bukan pasutri, maka melakukan hal aneh-aneh seharusnya tidak terlintas di kepala.
Jangan seperti pelaku, malah check-in dengan kesadaran penuh. Mungkin di satu sisi, menjadi nolep yang tidak tahu dunia luar jauh lebih baik ketimbang bersama seseorang tapi menuntun kita ke jalan setan.
Anak adalah puncak kebahagiaan untuk pasangan suami istri
Mungkin tidak semua orang tahu, bahwa memiliki anak adalah puncak kebahagiaan menjadi suami maupun istri. Memiliki anak adalah impian semua pasutri. Mendapatkan gelar ayah dan ibu adalah gelar yang sangat diinginkan oleh pasutri. Akan tetapi, tidak semua pasutri mendapatkan amanah dari Tuhan, sebab anak adalah amanah yang harus dijaga.
Di belahan bumi lain, ada sepasang kekasih yang otaknya tidak ditemukan melakukan perbuatan terlarang sampai mengorbankan nyawa seorang manusia. Bahkan nyawa darah dagingnya sendiri. Maka tidak seharusnya seorang bayi diperlakukan seperti itu.
Dear kekasih, ketahuilah batasan dalam perbuatan
Salah satu faktor dari kejadian tragis ini adalah hasrat yang tak terbendung, pelampiasan, dan akhirnya kejadian. Ujungnya? Dikorbankan sia-sia. Ini menjadi cambuk pedas untuk kita semua, agar berhati-hati dalam bertindak. Mengetahui batasan dalam perbuatan yang telah dilakukan.
Jika memang dilarang, maka jangan dilakukan. Jangan dicoba-coba, meskipun sekali. Bertindaklah sewajarnya sesuai nilai dan norma yang berlaku. Bumi ini sudah tercemar lingkungannya, janganlah kita ikut mencemarinya dengan kelakuan yang melampaui kemanusiaaan.
Edukasi terbuka ini untuk semua orang, agar selalu berhati-hati dan waspada dalam setiap kehidupan yang kita jalani. Jika memang sudah waktunya, maka segeralah menikah dan jangan ditunda. Kalau belum waktunya, maka bersabarlah.
Semoga para pelaku mendapatkan hukuman yang setimpal atas apa yang mereka lakukan.