Gambar oleh Sammy-Sander dari Pixabay
Beberapa hari lalu, publik dihebohkan dengan meninggalnya mahasiswa Universitas Udayana bernama Timothy. Ia ditemukan tewas dengan bunuh diri dari lantai 2 gedung kampusnya. Dugaannya masih diselidik oleh pihak berwajib. Cinestima mengucapkan belasungkawa yang sebesar-besarnya, semoga Timothy mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan.
Akan tetapi memang tidak semua manusia layak disebut sebagai manusia. Mengikut tragedi yang dialami oleh almarhum, beredar potongan-potongan tangkapan layar dari sebuah grup yang berisikan beberapa mahasiswa Unud. Hal yang membuat publik geram, adalah karena orang-orang di grup tersebut menunjukkan nirempati, bahkan sampai mem-bully almarhum.
Ada mahasiswa yang mengetik ‘’nanggung banget di lantai 2’’. Ada juga yang mengetik ‘’nggak kuat mentalnya kalau di lantai 4’’. Ketikan semacam ini menunjukkan tidak adanya respek dan rasa iba terhadap hal yang menimpa almarhum. Netizen menjadi murka dan banyak yang melakukan pencarian identitas kepada mahasiswa tersebut.
Cinestima sendiri turut memberikan hinaan yang besar kepada para penindas almarhum. Melalui artikel ini, pihak Cinestima ingin memberikan words of affirmation hinaan kepada para pelaku.
Otaknya dimana?
Kami memberikan hinaan yang paling mudah dulu, yaitu dimana otaknya kalian semua?
Fungsi otak adalah menjalankan seluruh fungsi tubuh, emosi, dan fisik dengan baik. Namun agaknya para pelaku ini tidak mengetahup dimana otak mereka diletakkan dan apa tujuan dari adanya otak itu sendiri. Melakukan penindasan, khususnya kepada mereka yang sudah meninggal benar-benar menunjukkan bahwa otak mereka tidak berjalan dengan sebaik mungkin.
Agaknya para pelaku ini meletakkan otak mereka di tempat yang lebih parah. Bukan di lutut, lutut terlalu bagus untuk meletakkan otak. Kemungkinan besar otaknya diletakkan di ujung mata kaki mereka sehingga peredaran darahnya tidak bagus.
Dan akibatnya, tidak bisa memberikan kata-kata yang bagus untuk sesama manusia.
Beneran manusia?
Tampaknya para pelaku ini perlu menjalankan tes kemanusiaan. Melihat hal-hal yang mereka lakukan, bisa kita simpulkan bahwa pelaku ini tidak sepenuhnya manusia. Menyebut almarhum dengan kata-kata yang tidak pantas bahkan mencela sosok yang sudah meninggal, benar-benar perlu ditanyakan bagaimana kemanusiaannya.
Salah satu sifat manusia itu jika memang disebut sebagai manusia, seharusnya dapat menunjukkan rasa kemanusiaannya. Contohnya jika ada yang meninggal, maka memberikan rasa respek dan berduka. Tidak seperti mereka pelaku ini yang menunjukkan kebodohannya.
Tolong blacklist pelaku wahai para HRD
Jika ada HRD perusahaan besar yang menonton ini, ada baiknya untuk menghafal wajah dan nama mereka lalu melakukan blaclist sebab rombongan orang-orang ini agar mereka jera. Mencekal dari perusahaan pastinya membuat mental para pelaku rusak dan menyadari kebodohannya.
Tidak lucu kan jika perusahaan berisi para orang-orang yang tidak memiliki empati sama sekali. Bisa jadi mereka turut menindas karyawan lainnya, oleh karena itu para HRD, jika ada CV berisikan wajah mereka sebaiknya segera dibakar.
Kepada orang tua yang ditinggalkan, kami berharap ketabahan dan kesabaran yang luas. Kini Timothy dapat beristirahat dan bersenang-senang di surga.
One thought on “Words of Hinaan untuk Para Pembully Almarhum Timothy: Lo Banget, Deh!”