Sumber: imdb.com
Beberapa bulan lalu, film berjudul Weapons sukses mendapatkan respon positif dari masyarakat. Film yang disutradai oleh Zach Cregger ini sukses dengan rating 7,5 di situs IMDb dan diproduksi oleh rumah film New Line Cinema. Dibintangi oleh artis ternama seperti Josh Brolin, Julia Garner, Benedict Wong, dan beberapa artis lainnya yang membuat film ini semakin meriah.
Film ini menceritakan tentang anak-anak sekolah yang menghilang setiap pukul dua dini hari. Mereka semua berada di kelas yang sama. Anehnya di kelas tersebut terdapat satu siswa yang tidak ikut menghilang bernama Alex. Sang wali kelas, Justine, justru dituduh menjadi dalang oleh salah satu orang tua murid bernama Archer. Kepala Sekolah yang bernama Marcus tidak memberikan solusi yang terbaik. Hal ini membuat Justine, Archer, dan seorang polisi bernama Paul menyelidiki kejadian ini. Tanpa mereka sadari, sang dalang mulai diam-diam memberikan teror keduanya.
Sebelum lo semua lanjut membaca, artikel ini mengandung spoiler yang besar. Jadi kalau Cinetism nggak mau kena, mending ditonton dulu filmnya baru balik ke artikel ini ya.
Weapons termasuk film horor yang mungkin membawakan tema baru untuk penonton, namun bukan hal baru untuk penonton film horor Indonesia. Soalnya, film satu ini kental banget dengan budaya Indonesia, ges!
Unsur okultisme yang kental
Spoiler! Dalang dibalik menghilangnya anak-anak di sekolah adalah karena bibi dari Alex yang bernama Gladys. Ia seorang yang memanfaatkan ilmu hitam dengan tujuan dapat kembali awet muda. Gladys juga memakai media santet berupa bonek voodoo untuk menyerang orang-orang yang menghalangi.
Tema okultik yang dibawakan di Weapons ini sering banget dipakai di film-film horor tanah air. Seperti kita ketahui, praktik ilmu hitam dan perdukunan memang ada di Indonesia, sehingga dibawakan menjadi film. Coba, sebutin film horor Indonesia yang temanya okultisme. Dari tahun 90-an sampai 20-an sekarang, film horor dengan tema ini selalu ada setiap tahun.
Bahkan, film okultisme di Indonesia lebih kompleks lagi dibandingkan yang ada di Weapons. Cara santetnya pun lebih liar dan kejam. Sampai ada adu mekanik antar dukun, lho! Kurang greget apa coba?
Yang salah siapa, yang disalahin siapa?
Pada film tersebut, para wali murid menyalahkan Justine sebab dianggap tidak mampu mengurus anak-anak sampai mereka hilang. Marcus sebagai kepala sekolah juga tidak bertindak banyak, hanya membela Justine seadanya. Inilah budaya Indonesia yang lain, yaitu mencari kambing hitam yang bukan kambing hitam.
Faktanya, para wali murid ini memilih mengadu ke sekolah alih-alih ke polisi. Kalaupun ada yang harus disalahkan, tentunya si orang tua. Sebab anak yang keluar dari rumah jam 2 dini hari itu bukan lagi ranah guru untuk menguruskan, kecuali mereka memang kabur dari sekolah.
Di negara kita banyak banget kasus seperti ini. Masyarakat tahu kalau ini bukan salah Justine, tapi mereka memilih menyalahkan Justine. Sama halnya kayak pengalihan isu yang dilakukan oleh peme, eh maksudnya oleh beberapa golongan masyarakat.
Film Weapons pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan film horor Indonesia, apabila kita membahas topik. Akan tetapi Zach Cregger membawakan gaya bercerita yang unik, yaitu dengan sudut pandang dari berbagai karakter sehingga seluruh elemen cerita menyatu dengan baik.
Klimak di film ini pun juga sedikit gore, sebab banyak adegan darah dimana-mana. Terakhir, film Weapons termasuk salah satu film horor yang direkomendasikan untuk ditonton. Kalau menurut lo, gimana film Weapons?