Sumber: Wikipedia Monster (film 2023)
Tahun 2023 seorang sutradara asal Jepang bernama Hirokazu Kuro-eda merilis film berjudul Monster. Awalnya film ini tidak tayang di bioskop, melainkan di sebuah festival film saja. Jika dilihat dari judulnya, kita pasti mengira ini tentang sosok makhluk menyeramkan yang meneror dunia.
Tapi kalau dilihat dari poster filmnya yang dominan warna-warna santai dan dua anak laki-laki yang masih sekolah, tidak tampak seperti film yang seperti itu. Namun film ini ternyata memang menyeramkan tapi dalam konteks kehidupan sosial masyarakat saat ini.
Kehidupan single mom, gen Z kerja, dan dua anak kecil
Secara garis besar tokoh yang harus diperhatikan di film ini ada empat. Anak laki-laki pertama bernama Minato Mugino yang hidup dengan ibunya bernama Saori Mugini, anak laki-laki kedua bernama Yori Hoshikawan, dan guru kelas mereka bernama Hosi Michitoshi. Inti film ini adalah perubahan sikap pada Minato dan sebuah rahasia besar yang nantinya akan terungkap.
Menonton film ini kayak lagi nonton realita yang ada di kehidupan sosial kita. Sosok Saori yang menjadi orang tua tunggal dengan gaji pas-pasan, berjuang membesarkan anak seorang diri, dan menghadapi kerasnya hidup tanpa adanya dukungan. Ada pula Hosi yang seolah menjadi representasi generasi Z yang harus kerja dengan gaji yang pas-pasan, rumah masih apartemen alias nyewa, pacar yang minta nikah dan berkhianat, serta tekanan batin dari pekerjaannya.
Bahkan sosok Minato dan Yori sendiri juga tak luput dari representasi kehidupan kanak-kanak zaman kini yang penuh dengan penindasan di sekolah, kekerasan di rumah, dan sesuatu yang agak ‘melenceng’.
Awal-awal menonton, dijamin lo masih bingung apa sebenarnya yang dimaksud dengan ‘monster’ di film ini. Sebab beberapa jam berjalan film ini tampak seperti film drama kebanyakan, tidak unsur sains fiksi, tidak ada manusia berkekuatan super, dan tidak ada sosok yang muncul dari luar bumi.
Sampai akhirnya, Kore-eda memberikan sesuatu yang bernama point of view alias sudut pandang karakter yang nantinya membuat kita sadar siapa monster tersebut.
Sudut pandang setiap tokoh
Dalam sudut pandang Saori ‘sebagai ibu’, Hosi adalah monster. Perubahan sikap pada Minato ternyata adalah ulah Hosi, menurut pengakuan Minato. Ia mendapatkan perlakuan tidak pantas dari gurunya tersebut. Ketika meminta pertanggungjawaban Hosi, guru tersebut cuma meminta maaf dengan tampang ogah-ogahan. Pada fase pertama, kita mengeklaim bahwa Hosi-lah monsternya.
Namun diperlihatkan lagi dalam sudut pandang Hosi ‘sebagai guru’, Minato dan Yori adalah monster. Faktanya Hosi tak pernah menyentuh Minato sedikit pun, bahkan ia bersikap baik kepada mereka semua, kepada seluruh siswa juga. Ketika dihakimi oleh Saori, Hosi menatap bahwa dua anak lelaki itu mengkhianatinya. Tidak mengatakan yang sebenarnya terjadi. Fase ini membuat kita menjadi bingung, masa dua anak polos monster?
Akhirnya, dalam sudut pandang Minato dan Yori sebagai ‘anak-anak’, semua orang di sekitar mereka adalah monster. Mengapa mereka memandangnya sebagai monster karena adanya sesuatu diantara mereka berdua yang kalau dalam kultur Indonesia, adalah sesuatu yang dilarang. Beberapa sumber menyebut mereka berdua ini saling suka (yang tentu saja bertentangan dengan norma dan nilai), namun beberapa menyebut mereka ini masih dalam tahap ‘bestie’ semata.
Kita memang tidak pernah tampak baik dan mencegah penghakiman
Kehidupan sosial menuntut adanya interaksi yang harus dilakukan setiap harinya di lingkungan masyarakat. Hal ini menjadikan adanya aksi dan reaksi. Jika kita menganut pada logika, interaksi-aksi-reaksi yang diterapkan haruslah hal baik. Sesuatu yang positif tanpa menimbulkan adanya hal negatif.
Dalam berkomunikasi pun secara dua arah agar tidak ada pihak yang dirugikan. Kita semua yakin pasti merasa bahwa interaksi kita terhadap sesama manusia sudah baik dan benar. Masalahnya, apakah manusia yang diajak berinteraksi juga menganggap kita baik dan benar? Faktanya, tidak selalu.
Sesuatu yang dianggap baik, dapat dianggap buruk oleh masyarakat sekitar. Dalam kasus film Monster, interaksi Saori, Minato, dan Yori telah menghancurkan kehidupan Hosi. Ia kehilangan pekerjaan, nama baik, dan masa depannya.
Pada sisi lain, interaksi Hosi bersama Minato justru dianggap Saori telah merusak kehidupan putranya tersebut. Sedangkan Minato dan Yori justru melarikan diri dari Saori, Hosi, dan masyarakat karena takut kebersamaan mereka akan dirusak.
Hal ini menegaskan bahwa kita semua itu dapat buruk dalam cerita dan sudut pandang orang lain. Tidak peduli sebaik apa pikiran kita menganggap kita baik, dalam pikiran orang lain bisa saja kitalah yang paling buruk menurut mereka.
Melalui film ini kita juga diperlihatkan salah satu hal yang sering terjadi di kehidupan kita, yaitu ‘menghakimi’. Awal film kita saling menghakimi antar tokoh, tanpa tahu kejadian apa yang sebenarnya terjadi. Hal ini sangat erat dengan kehidupan bermasyarakat yang saling menyalahkan tanpa mencari kebenaran. Tidak jarang hal seperti ini memakan korban jiwa.
Lo ingat beberapa tahun lalu, ada kasus seseorang yang dibakar karena diduga maling? Ternyata dia tukang servis. Ada juga kasus segelintir orang yang dituduh tidak-tidak, padahal mereka cuma manusia biasa yang menjalani hari.
Ungkapan ‘berpikir sebelum bertindak’ benar-benar harus direnungi dengan baik. Menilai sesuatu secara langsung kadang kala tidak pernah semeyakinkan itu sehingga kita harus mencari dari sisi lain dan sudut pandang lain untuk membuktikan kebenarannya. Jika masih rancu, maka sebaiknya jangan menghakimi dan cukup evaluasi. Tapi jika memang benar terbukti bersalah, maka lakukanlah tindakan yang masih dalam kewajaran kemanusiaan.
Monster pada akhirnya menunjukkan bahwa siapa saja dapat menjadi monster, bahkan kita yang menonton pun juga dikategorikan sebagai monster karena saling berprasangka buruk kepada setiap tokoh yang ada. Meskipun begitu bukan berarti kita berhenti melakukan hal baik.
Ada kalanya memperhatikan penilaian orang itu penting, tetapi tetap diimbangi dengan keyakinan bahwa apa yang kita lakukan adalah sesuatu yang baik. Seperti apapun respon yang diberikan masyarakat, akan selalu ada yang menganggap kita sebagai orang baik dan monster.