Dear Pengurus MBG, Serahkan Dana Makanannya kepada Pemilik Restoran Nasi Ampera!

Gambar oleh Robert Lens dari Pixabay

Beberapa hari ini, kita dikejutkan dengan kasus-kasus adanya siswa-siswi yang keracunan dari program yang tengah dijalankan oleh Presiden, yakni Makan Bergizi Gratis. Program ini menjadi salah satu unggulan sebab menjanjikan asupan nutrisi yang ‘katanya’ memenuhi semua yang dibutuhkan tubuh. Mulai dari karbohidrat, serat, kalsium, vitamin, dan protein. Katanya, sih, begitu.

Namun berita keracunan yang beredar tersebut justru membuat kita semua bertanya-tanya: ada apa dengan MBG?

Untuk catatan, kasus keracunan MBG ini sudah terjadi beberapa bulan sebelumnya. Korbannya pun sama, peserta didik. Anak-anak yang tidak tahu apa-apa, datang ke sekolah dengan tujuan menimba ilmu, justru malah mendapat rasa sakit yang entah darimana munculnya.

Hal ini menjadikan persepsi masyarakat berubah mengenai MBG. Ada yang berpendapat bahwa di daerah lain, tidak ada anak yang teracuni dan tetap sehat setelah mengonsumsi MBG. Akan tetapi kita tidak bicara soal hasil, melainkan nyawa. Walaupun hanya satu atau sedikit, tetap saja ada yang namanya ‘korban’ dalam kasus ini.

Beredar juga foto-foto makanan MBG yang kalau kita gunakan bahasa kasar, sedikit miris. Tidak perlu ditampilkan di sini, cukup cari saja di semua sosmed kesayangan pasti muncul. Rasa miris mengenai isi MBG ini bagaikan pedang dua sisi.

Sisi pertama, masyarakat ingin anak-anak mendapatkan lauk MBG yang layak. Makanan yang memang mengenyangkan dan pas. Tidak harus menu mewah atau porsi kuli, cukup selayaknya memberi makanan kepada anak-anak sebagai penunjang proses tumbuh kembang mereka.

Sisi kedua, kita harus melihat anggaran dana yang disiapkan. Dilansir dari berita di CNN Indonesia, dana per porsi MBG adalah sebesar sepuluh ribu rupiah. Ya, sepuluh ribu rupiah. Apa yang bisa kita dapatkan dengan dana 10 ribu rupiah? Bukannya tidak beryukur, tapi kita harus realistis.

Apabila melihat menu-menu MBG yang beredar, rasanya wajar jika dengan dana sepuluh ribu mendapat lauk pauk seperti yang beredar. Tapi sisi manusia kita juga menganggap itu kurang. Disaat seperti ini, beberapa alternatif usaha makan turut dipandang oleh masyarakat juga.

Salah satunya, adalah pedagang nasi ampera Padang. Bukan, bukan pedagang Restoran Padang, itu beda lagi.

Ampera merupakan salah satu jenis rumah makan dengan lauk pauk ala Padang, namun dengan perbedaan yang cukup signifikan. Pada warung ini, pembeli wajib memilih lauk yang mereka inginkan. Berbeda dengan restoran Padang yang menghidangkan semua lauknya di atas meja.

Selain itu harga di warung ampera cenderung lebih murah, rata-rata hanya sepuluh ribu rupiah. Ya, sesuai dengan budget yang digunakan di MBG.

Jika kasus begini, maka tidak ada salahnya jika MBG diberikan saja kepada pemilih usaha warung ampera, biar mereka yang menyediakan menu-menu untuk para peserta didik.

Tunggu dulu, mari kita bedah bagaimana dana sepuluh ribu di tangan para pemilik warung nasi ampera ini. Pertama, mereka memberikan nasi sebagai karbohidrat. Porsi yang diberikan biasanya pas, tidak sedikit dan tidak banyak. Ini cocok untuk anak SD yang memang dasarnya makan sedikit.

Kedua, mereka siap dengan berbagai jenis lauk. Untuk anak sekolah dasar yang masih pilih-pilih, cukup berikan ayam goreng serundeng, ikan goreng, dan telur dadar. Tiga pilihan lauk itu sudah lebih dari cukup. Untuk anak sekolah menengah, mungkin gulai bisa jadi opsi lain.

Ketiga, makan nasi Padang tidak afdol tanpa adanya sayur alias serat. Umumnya diberikan sayur daun singkong yang hanya direbus. Ini bagus sekali sebab belum tercampur dengan bumbu-bumbu penyedap. Sayur jenis ini pastinya juga disukai anak-anak sebab tinggi kandungan serat.

Terakhir, ada penyedap-penyedap seperti kuah dan sambal sebagai pelengkap. Ini bisa opsional jikalau memang tidak kuat pedas, tapi kuah bisa dipertimbangkan agar rasa MBG semakin enak.

Komposisi makanan tersebut tentunya sangat layak menjadi makanan MBG. Apalagi jika yang memasak lauknya adalah orang Padang asli yang memang dikenal bertangan Ajaib sebab makanan buatan mereka selalu enak-enak. Para orang tua murid juga pasti senang, sebab anak mereka mendapatkan makanan enak ditambah gizi yang seimbang.

Jika kalian yang membaca ini adalah salah satu dari pengurus dapur MBG, mungkin bisa diwacanakan untuk memberikan semua kegiatan ini kepada pemilik warung nasi ampera. Meskipun dana minim, tapi hasil yang diberikan maksimal. Lagian orang mana, sih, yang nggak suka makanan Padang.

Seandainya ini memang dilakukan, akan membuat masyarakat respek sebab turut menggerakan UMKM serta memperhatikan rakyat. Nasi ampera menjadi solusi MBG yang sangat mumpuni. Sebab kita tahu bahwa makanan Padang ini memang favorit semua orang.

Dan juga, belum ada kasus orang anak kecil keracunan makanan Padang, paling cuma kepedasan dan kekenyangan doang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top