Gambar oleh Karolina Grabowska dari Pixabay
Dear Cinestism, era yang penuh dengan kecanggihan dan modernisasi ini, sudah banyak bentuk inovasi yang kita temukan. Salah satunya di bidang pekerjaan. Zaman sekarang ini, pekerjaan tidak lagi terpaku dengan sistem tradisional. Kalau mau kerja, tidak harus kita mendatangi tempat lagi. Tidak harus dengan menghabiskan bensin atau tenaga lagi untuk bolak-balik mendatangi lokasi kerja.
Era ini menghasilkan banyak sekali opsi pekerjaan yang dapat dilakukan, khususnya oleh generasi Z dan Alpha yang sudah teracuni teknologi sejak dini. Menjadi pegawai negeri atau korporat bukan lagi tujuan, melainkan satu dari sekian pilihan. Salah satu pekerjaan yang banyak ditekuni adalah menjadi pekerja lepas atau bahasa kerennya, freelance.
Sesuai namanya, freelance adalah pekerjaan yang berbasis pada projek. Mereka baru mendapatkan uang ketika ada proyek yang harus dikerjakan. Ada beberapa alasan mengapa freelance ini menjadi favorit semua orang.
Pertama, keinginan pada passion. Siapa, sih, yang nggak mau kerja sesuai minat yang lo suka? Biasanya para freelancer ini mengerjakan proyek yang memang di bidang yang mereka kuasai dan minati. Hal ini membuat mereka lebih fokus dan lebih gembira dalam menjalani pekerjaan. Nggak ada, tuh, istilah ‘mager kerja’ atau ‘butuh tantangan baru’.
Kedua, fleksibilitas. Proyek kerja freelancer berbasis pada tenggat waktu yang ditentukan, sehingga para pelaku kerja ini bisa menyesuaikan kapan mereka hendak bekerja. Ditambah lagi, tidak perlu harus menghabiskan tenaga dan bensin untuk menuju kantor. Cukup kerja di tempat tinggal atau kafe terdekat, maka pekerjaan bisa dilakukan.
Ketiga, koneksi yang luas. Para klien dari freelancer ini ada yang berasal dari perusahaan besar atau memiliki nama yang terkenal, sehingga dapat menjadi relasi yang bagus bagi mereka. Hal itu menjadikan adanya peluang untuk freelancer diajak bergabung ke semua proyek yang akan dijalankan oleh para klien-klien ini.
Mengambil pekerjaan sebagai freelancer memang terdengar menarik, namun membutuhkan beberapa modal dan syarat yang diperlukan. Ada pula konsekuensi yang harus siap diterima jika bekerja sebagai freelancer ini.
Seorang freelancer harus memiliki skill yang mumpuni dalam menjalankan setiap proyek. Oleh karena itu penting bagi mereka untuk terus menambah dan mengasah keahlian agar klien tetap ada yang mencari jasa mereka. Bahkan tidak jarang seorang freelancer harus mempelajari skill baru demi menarik perhatian klien untuk hasil proyek yang terbaik.
Freelancer juga harus siap dengan adanya ‘revisi’ alias perbaikan. Tidak sedikit klien yang banyak permintaan dan mau perubahan berkali-kali. Revisi dan perubahan ini dapat muncul sewaktu-waktu sehingga freelancer harus bersiap untuk tetap tersambung dengan kliennya, bahkan di waktu istirahat pun juga tidak menjamin tidak ada revisi dari klien.
Terakhir, freelancer harus memiliki kesabaran seluas Samudera Antartika. Karena berbasis proyek dan mencari klien, tidak setiap hari ada pelanggan yang mau menggunakan jasa mereka. Bisa saja dalam seminggu atau sebulan tidak ada klien yang berarti tidak ada penghasilan.
Inilah salah satu kontra dalam menjadi freelancer, yakni penghasilannya tidak tetap. Kadang kecil dan kadang besar. Meskipun begitu, faktanya kerja sebagai freelancer tetap masih laku di kalangan masyarakat, khususnya semua orang yang memang mencari kebebasan dalam bekerja.
Ada banyak situs dan platform freelance yang bisa lo coba kalau mau berkecimpung di dunia satu ini. Jadi, apa lo tertarik untuk menjadi seorang freelancer?