Bangsa Ini Perlu Disadarkan Betapa Mengerikannya Sampah

Gambar oleh Pexels dari Pixabay

Beberapa waktu lalu di Kota Surakarta, diadakan sebuah acara yang bernama Haul Solo. Acara ini diadakan rutin setiap tahun untuk memperingati wafatnya salah satu ulama besar bernama Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi. Setiap peringatan ini pula Kota Surakarta selalu dipenuhi oleh para jamaah yan berkunjung untuk mengikuti acara tersebut.

Tamunya pun tidak dari masyarakat saja, melainkan beberapa tokoh juga seperti pejabat publik sampai presiden pernah menghadiri haul ini. Hal ini wajar saja mengingat tokoh Habib Ali adalah sosok yang gigih dalam menyebarkan agama Islam semasa hidupnya.

Dibalik acara yang penuh khidmat ini, terdapat satu permasalahan yang menjadi pokok masalah. Masalah ini cukup besar sampai membuat kita sadar betapa kurangnya kesadaran masyarakat negara merah putih ini. Masalah tersebut adalah ‘sampah’.

Dilansir dari berita oleh timesindonesia, terdapat banyak sekali sampah yang tidak dibereskan oleh beberapa jamaah. Bahkan masyarakat umum Kota Surakarta mengeluhkan hal ini yang terjadi terus setiap tahun dan belum ada perubahan. Salah satu masyarakat juga mengaku seharusnya momen ini menyadarkan jamaah akan pentingnya kebersihan namun belum terlalu berjalan dengan baik.

Mari kita fokus ke satu hal, yaitu sampah. Kumpulan material yang terbuat dari berbagai jenis unsur ini agaknya memang masih masalah utama di negara kita. Sudah tak terhitung berapa banyak sampah yang dapat kita temukan, baik itu di daerah perkotaan maupun pedesaan.

Akan tetapi masalahnya bukan sampah, sebab ia hanyalah benda mati. Tidak bisa berpikir, berakal, dan bertindak. Titik masalahnya adalah masyarakat kita yang belum semuanya memiliki kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan dari benda satu ini.

Sampah adalah sumber dari berbagai masalah. Apabila kita biarkan saja akan ada empat tahap menyakitkan yang dialami oleh masyarakat.

Pertama, mereka akan menganggu pemandangan. Bayangkan sebuah jalanan yang bersih sampai ujung, namun di sudut kiri ada tumpukan sampah. Mata kita pati akan merasa tercemar. Tahap kedua, ia akan membuat bau lingkungan. Semakin dibiarkan dan semakin ditambah, sampai yang beraroma random ini akan menyatu dan menghasilkan bau yang membuat hidung serasa ingin log out.

Ketiga, ketika mereka akan semakin banyak maka akan semakin lama diurai secara alami oleh alam. Tumpukan ini akan melebar dan meluas kemana-mana seiring berjalan waktu. Dan keempat, tidak menutup kemungkinan akan ada virus atau penyakit yang timbul dari sampah-sampah ini. Binatang yang membawa virusnya pun tidak mustahil akan membawanya lagi ke lingkungan masyarakat.

Hal ini tidak lepas dari kebiasaan masyarakat yang masih memandang sepele sampah. Sampai hari ini masih bisa kita temukan ada beberapa orang yang membuang sampah sembarangan. Kalau membuangnya di jalanan mungkin masih bisa bersihkan mandiri, namun apabila ke sungai?

Membuang sampah di sungai adalah investasi jangka panjang dalam merusak sungai. Air yang ada akan tercemar, meracuni makhluk hidup di dalamnya, dan merubah warna air menjadi gelap. Jika air ini sampai ke masyarakat dan digunakan, maka tunggu saja malaikat maut memilih outift terbaiknya.

Tidak hanya di sungai, ada juga yang memilih membuang sampai ke saluran. Lebih berbahaya lagi dari sungai, hal ini menyebabkan bencana. Jika sampah menumpuk dan menghalangi saluran, maka air akan meluap dengan volume yang besar. Bahkan bisa juga menimbulkan penyakit yang dibawa oleh angin. Kalau sudah kejadian? Salahkan pemerintah.

Sesungguhnya dampak ini sudah banyak terjadi di negara kita. Banyak berita yang menginformasikan kejadian buruk karena membuang sampah sembarangan. Berita-berita ini seharusnya menjadi titik balik masyarakat untuk tidak lagi melakukan hal tidak terpuji tersebut. Harus ada tindakan preventif yang dilakukan oleh seluruh golongan masyarakat.

Cara yang paling mudah adalah tumbuhkan kesadaran akan berbahayanya sampah-sampah ini. Mulailah dengan menyediakan tempat sampah yang proper di sekitar rumah dan taruhlah sampah di tempat tersebut. Kemudian apabila dekat dari rumah, bawalah sampah ke pusat penghancuran sampah yang ada.

Jika ada yang sekiranya masih berguna, maka gunakan prinsip 3R agar sampah-sampah ini dapat digunaka kembali. Selanjutnya ajaklah orang di sekitar kita untuk melakukan hal serupa. Tidak harus sempurna, tapi ada. Perkembangan kecil yang konsisten jauh lebih baik ketimbang perubahan besar namun hanya dilakukan sekali.

Menjaga lingkungan bukan tugas pemerintah saja, melainkan seluruh unsur masyarakat. Menjaga lingkungan merupakan investasi yang tidak akan rugi. Melakukan tindakan penjagaan akan melestarikan bumi untuk generasi di masa depan yang akan datang kelak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top