MasterChef Indonesia mungkin adalah salah satu program televisi yang memiliki banyak peminat. Acara yang berkonsep kompetisi memasak ini masih terus berjalan sampai sekarang dan memiliki banyak sekali juara.
Alasan mengapa acara ini laku keras adalah karena masyarakat kita menyukai acara tantangan seperti ini. Lebih lagi mendapatkan edukasi gratis seputar dunia memasak, jadi cocok banget ditonton semua kalangan.
Namun, daya tarik dari acara ini bukanlah memasak, melainkan drama di antara pesertanya!
Sudahlah, akui saja bahwa selain masak-masak, eksistensi peserta yang ngedrama ini juga menjadi daya tarik dari MasterChef Indonesia itu sendiri. Mungkin yang paling sederhana anda ingat tentang drama Lord Adi di musim kedelapan?
Meskipun dramanya mengarah ke yang menghibur, tapi tetap saja menjadi pemikat penonton yang sangat berhasil. Atau hal lainnya saat peserta yang bernama Oliv yang dijuluki ratu pressure test.
Atau mari kita lompat ke musim-musim sebelumnya. Di musim ketujuh, ada mantan anggota JKT48 bernama Yuri yang ikutan acara ini. Dan dia sempat menjadi bahan hujatan penonton karena dianggap tidak jago masak dan sempat beredar kabar bahwa Yuri dipertahankan dengan tujuan rating acara MCI naik. Benar atau nggak, itu tidak penting.
Tapi lihat sisi positifnya! Kala itu di musim kedelapan, Lord Adi kerap kali menjadi trending di Twitter. Namanya terpampang jelas di urutan pertama kolom tersebut. Penonton yang sudah tahu tentu saja bersorak-sorai bahagia, sedangkan mereka yang belum tahu akan melongo sembari bertanya-tanya siapakah Lord Adi ini.
Atau saat nama Yuri digaungkan, para penggemar JKT48 juga berbondong-bondong menonton acara tersebut demi menyaksikan idolanya memasak.
Belum cukup sampai disitu kawan. Ada pula drama yang disebut ‘couple’. Beberapa peserta di MCI yang disorot penonton, mereka jadikan bahan saling memasangkan. Maksudnya itu, memasangkan menjadi pasangan sungguhan.
Contohnya di musim 8, ada Brian dan Nadya. Musim 9, ada Victor dan Alden. Walaupun agak menggelikan, tapi drama couple ini juga sukses mengundang penonton-penonton baru yang akhirnya ikut-ikutan nonton MCI.
Itu pun belum termasuk dengan drama lain. Misalnya juri yang ngelepehin makanan peserta, peserta ketahuan membawa resep, peserta yang nangis karena gagal melaju ke babak berikutnya, peserta adu argumen dengan juri, dan juri yang mengatakan makanan mereka seperti ‘’Rasanya kayak sampah!’’
Terkadang drama seperti itu adalah hal menarik untuk kita saksikan. Coba bayangkan alur dari MCI seperti ini. Peserta masuk ke dapur, juri beri instruksi, terus memasak. Habis masak, bawa ke juri, dinilai, lalu pengumuman pemenang. Hambar sekali bukan acaranya? Disinilah permainan drama atau gimmick atau apalah sebutannya, mengambil alih agar menarik.
Semua hal itu akan menarik jika ada satu objek yang melampaui batas atau mendobrak aturan, seperti itu pula drama yang ada di MCI. Disaat peserta lain fokus masak, ada satu peserta yang menangis karena makanannya gagal. Reaksi kita sebagai penonton adalah tertawa atau turut iba.
Ketika ada peserta yang saling merendahkan, kita ikut tidak menyukai peserta itu. Bahkan menghujat langsung ke akun sosial media mereka. Disaat juri membuang makanan peserta, kita ikutan mikir betapa sayangnya makanan itu dibuang atau betapa kejamnya tiga juri ini membuang makanan seperti itu.
Ada pula segelintir masyarakat yang tingkahnya cepat sekali gemas. Tipe seperti ini biasanya langsung demen kalau ada peserta yang dianggap cocok untuk couple. Mulailah mereka mengumpulkan pasukan, membuat akun ig shipper, dan mengunggah momen-momen peserta couple yang dianggap lucu.
Segala hal diatas itu adalah bukti nyata bahwa drama adalah daya tarik dari MasterChef itu sendiri. Dan bukan hanya di Indonesia saja, acara masak di seluruh dunia ini juga memiliki hal seperti itu. Terlepas itu settingan atau nggak, mari kita abaikan. Sekarang buka televisi dan mari menonton MasterChef Indonesia Season 10.