Beberapa bulan lalu negara kita dihebohkan dengan munculnya berbagai dokumentasi dari bendera berwarna hitam dengan gambar tengkorak yang dinaikkan di tiang bendera. Ya, bukan Sang Saka Merah Putih melainkan bendera tengkorak!
Usut punya usut, bendera tersebut merupakan bendera yang muncul di salah satu manga sekaligus anime legendari karya Eiichiro Oda berjudul One Piece.
Manga tersebut mengisahkan tentang karakter bernama Monkey D’Luffy yang berjuang dan berpetualang di lautan luas bersama rekan-rekan pilihannya demi menjadi raja bajak laut. Selama perjalanannya ia menghadapi banyak tantangan dan rintangan.
Munculnya bendera tersebut di tengah-tengah dinamika kehidupan tentunya menarik perhatian masyarakat. Ada yang mendukung, ada pula yang menolak.
Beberapa yang menolak meminta mereka yang mengibarkan untuk segera menurunkan bendera tersebut sebab dianggap kurang pantas dan layak, apalagi sempat beredar video dimana ada sekelompok orang yang memilih menaikkan bendera itu daripada bendera negara.
Sedangkan mereka yang mendukung, menganggap itu adalah simbol dari kebebasan berekspresi. Hal ini tidak sepenuhnya salah, sebab peristiwa menaikkan bendera selain merah putih sudah pernah terjadi di era sebelumnya.
Pada era kepemimpinan Gus Dur, beliau membolehkan menaikkan bendera lain, dengan syarat bendera tersebut tidak lebih tinggi dari merah putih. Pernyataan tersebut memperkuat dua hal. Pertama, semua orang berhak berekspresi dan kedua, bendera negara tetap harus dihormati.
Ketika adanya beberapa statement untuk menurunkan bendera itu, ada yang menolak dan tetap dengan berani menaikkannya. Hal ini menunjukkan bagaimana kebebasan harus tetap dijunjung tinggi.
Tidak sampai di situ, kejadian ini juga seolah memberikan pesan tidak langsung bahwa perlawanan tidak dalam bentuk adu fisik semata, melainkan juga media kreatif seperti bendera One Piece ini.
Dan hal ini sudah menyebar sampai ke luar Indonesia!
Bendera One Piece sudah ditegakkan di negara lain
Dilansir dari situs Straitstimes, bendera One Piece yang bermula di Indonesia ini sudah menjadi bentuk perlawanan di Asia. Negara seperti Filipina dan Nepal. Bahkan sudah menjalar sampai ke Eropa, yakni Prancis pun terlihat membawa bendera tengkorak tersebut.
Kemunculan dari bendera One Piece di tiga negara ini dipicu karena peristiwa yang berbeda, namun garis besarnya sama yakni ‘melawan’.
Pada kasus Filipina, bendera ini terlihat saat acara hari anti korupsi di Kota Quezon yang melibatkan hampir massa mencapai seribu orang. Terlihat di lokasi University of the Philippines Diliman, bendera tersebut dikibarkan oleh salah satu demonstran.
Bendera tengkoran di Nepal sendiri muncul saat adanya demo masyarakat yang menuntut Perdana Menteri K.P. Sharma Oli untuk mundur. Mereka mengibarkan bendera itu sebagai wujud melawan pembungkaman dan gratifikasi. Bahkan muncul tagar #WakeUpNepal selama berjalannya aksi tersebut.
Sedangkan di Prancis, beredar foto seseorang membawa bendera tersebut pada tanggal 10 September saat aksi kemarahan massa kepada Presiden Emmanuel Macron.

Sumber: Straitstimes.com
Kasus di ketiga negara tidak hanya menunjukkan kebebasan, namun juga bagaimana mengerikannya rakyat ketika mewujudkan aspirasinya kepada para pemangku kuasa.
Setiap aksi yang dilakukan bukan untuk kerusuhan, melainkan bentuk dari kemarahan terhadap kasus korupsi, kekerasan, dan pembungkaman yang dilakukan oknum pejabat tidak bertanggung jawab.
Manga dan anime bukan lagi hiburan, melainkan perlawanan
Ada satu hal yang menarik dari fenomena ini. One Piece sendiri adalah manga yang sudah mendapat adaptasi anime sampai live action yang populer di seluruh negara.
Bermula dari manga dan anime sebagai hiburan, kini kedua hal tersebut tidak sebatas di sana saja. Munculnya bendera One Piece tersebut menunjukkan bahwa unsur di dalam suatu manga dapat menjadi media perlawanan.
Esensi dari manga atau anime memang memberikan rasa senang kepada penonton dan penggemar. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa mereka ada media untuk berjuang. Sejak zaman penjajahan dulu, sudah banyak seniman yang memanfaatkan karya mereka untuk melawan para pemegang kekuasaan.
Ini menjadi sebuah kilas balik bahwa seni merupakan wujud dari apa yang dialami oleh masyarakat, representasi dari kondisi yang sedang terjadi. Dan secara kebetulan, One Piece kemungkinan dapat mewakili hal tersebut melalui bendera Luffy.
Hal ini lekat dengan Gen Z yang memang penuh kreatif, inovatif, dan kontradiktif yang unik. Alih-alih mencari media lain, mereka mampu menggunakan hiburan yang kadang dipandang sebelah mata berupa manga dan anime One Piece ini.
Adanya kejadian ini menjadikan sebuah manga atau anime lainnya bisa saja menjadi media melawan dan berjuang. Jadi jangan heran bisa besok kita melihat logo Skuad Pengintai dari anime Attack On Titan.
Kalau kita membahas makna, tentunya subjektif. Apakah bendera ini memang mewakili dari simbol perjuangan atau perlawanan, biarlah kalian sendiri yang menentukan. Kepada para Gen Z yang membaca ini, kalian adalah penerus perjuangan.
Oleh karena itu gunakanlah semua perangkat yang ada untuk menegakkan keadilan, meskipun langit akan runtuh.