Hubungan Cinta Benci Antara AI dan Pekerja Industri Kreatif

Gambar oleh Oleksandr Pidvalnyi dari Pixabay

Kecerdasan buatan atau artificial intelligence, sering juga disebut sebagai AI sudah menjadi bagian dari ekosistem masyarakat. Mulai naik di beberapa tahun belakang, kini hampir seluruh orang di dunia mengandalkan AI sebagai bagian dari pekerjaan mereka.

Tidak hanya secara perseorangan, beberapa perusahaan pun juga sudah memanfaatkan AI untuk mengerjakan tugas. Tak dapat dipungkiri bahwa memang adanya tool atau alat satu ini memang sangat memudahkan pekerjaan dengan efisien dan cepat. 

Masalahnya, tidak semua pekerjaan dapat kita selesaikan dengan adanya AI. Bila kita bicara pekerjaan secara sederhana, AI adalah jawaban.

Contohnya, mengerjakan dokumen sederhana. Merangkum poin penting dalam sebuah jurnal. Menyusun jadwal, memberikan rekomendasi, atau melanjutkan sebuah tulisan.

Bagi para pekerja tradisional dan perusahaan, AI sangat-sangat menyelesaikan semua beban pekerjaan.

Pada titik ini, ada satu kaum pekerja yang rasanya dapat dirugikan dengan adanya AI. Kalau tidak sampai dirugikan, paling minimal mereka mendapatkan sesuatu yang disebut love hate relationship.

Alias hubungan cinta dan benci!

Pekerja kreatif: kaum kuat tanpa istirahat

Kalau kita bicara tentang kreatif, maka lingkupnya luas sekali. Bahkan tidak semuanya dapat kita definisikan sebagai kreatif, begitu pula dengan pekerja kreatif.

Contoh pekerja kreatif adalah para pekerja lepas (freelancer) di berbagai bidang. Mereka in memiliki jam kerja yang sangat berbeda dengan pekerja lainya.

Misalnya pegawai negeri. Jam kerja mereka adalah 8 to 4. Jam delapan pagi sampai empat sore. Berbeda dengan pekerja kreatif yang 8 to 24, artinya jam delapan pagi sampai 24 jam ke depan yang akan datang!

Mereka akan selalu bertemu dengan yang namanya klien. Rapat, diskusi harga, dan revisi adalah makanan sehari-hari mereka. 

Gaji? Tidak pasti. Bisa kecil, bisa besar. Tergantung tarif projek yang mereka dapatkan dari klien.

Antara AI dan pekerja kreatif.

Seperti yang kita ketahui, pekerja kreatif harus menggunakan seluruh tubuh dan pikiran untuk projek mereka. Ide yang dituangkan mesti orisinal, belum ada yang buat, serta menawarkan kebaruan untuk menggaet pelanggan.

Kita ambil contoh yang paling dekat. Seorang pekerja lepas desain grafis yang 24 jam mencari referensi desain untuk proyek pelanggan.

Setelah mendapatkannya, ia tidak langsung mengeksekusi. Mereka harus membuat yang baru dari referensi yang didapatkan. Mudahnya, mereka harus rajin ATM amati-tiru-modifikasi.

Kelar? Oh tidak secepat itu, Ferguso. Jika pelanggan mau revisi, harus bersiap di depan seperangkat alat kerja lagi.

Nah, sekarang coba bayangkan apa yang bisa dilakukan dengan AI. Cukup dengan mengetik prompt atau perintah yang diinginkan, kemudian voila. Hasil yang diinginkan sudah didapatkan, tinggal eksekusi.

Tidak hanya itu, kini AI juga bisa langsung membuatkan desain atau karya yang kita inginkan melalui prompt yang akan kita gunakan.

Problematikanya adalah beberapa pekerja kreatif menganggap bahwa AI dapat menggantikan semuanya. AI mampu menghasilkan ide atau hasil dengan waktu yang lebih cepat.

Fleksibilitas ini menjadikan AI sangat laku di masyarakat, sehingga beberapa merasa tidak perlu lagi jasa para pekerja kreatif untuk membuatkan proyek yang mereka inginkan.

Kerja sama antara kedua pihak

Dibilang sebagai cheat code, tentu saja. Hal itu membuat eksistensi pekerja kreatif perlu ditingkatkan lagi agar tidak tenggelam dalam jebakan AI yang setiap tahunnya selalu mendapatkan pembaruan yang membuatnya semakin bisa ‘menghasilkan apapun’.

Solusi yang dapat diberikan adalah saling memanfaatkan satu sama lain. Pekerja kreatif dapat menggunakan AI sebagai salah satu alat kerja yang mumpuni. Misalnya mencari referensi, inspirasi, atau ide untuk hasil kerja.

Di sisi lain pekerja kreatif juga tidak boleh memanfaatkan AI sepenuhnya. Mereka harus belajar untuk menghasilkan karya baru yang lebih baik dan bagus, sebagai bentuk portofolio yang meyakinkan kepada calon pelanggan.

Memaksimalkan penggunaan AI dapat memberikan hasil terbaik bagi para pekerja kreatif. Apabila mereka mampu memanfaatkannya dengan sebaik mungkin, maka tidak mustahil bahwa pekerjaan para pelaku kreatif ini jauh lebih muda serta menghemat waktu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top